Archive for » 2009 «
Pertamina. Mungkin nama ini tidak ada di mobil balap F1 yang menjadikan itu balapan termahal di dunia. Tapi, jika Anda menganggap pertamina adalah sesuatu yang kecil, lebih baik Anda mempertimbangkannya kembali. Pertamina telah menjadi perusahaan penyedia bahan bakar yang terbaik di Indonesia. Pertamina juga turut membantu pembangkit listrik menyediakan energi listrik untuk Indonesia. Pertamina tidak hanya fokus pada profit, walaupun sebagai perusahaan yang mempunyai kendali pasar yang besar. Pertamina sangat fokus pada pelayanan pada pelanggan. Kebutuhan energi Indonesia mendapat suplai yang sangat besar dari Pertamina.
Judul di atas dibuat dengan mempertimbangkan nilai-nilai dalam Pertamina. Apa saja itu? Pertamina dipimpin dengan metode kepemimpinan yang mensahkan perkembangan. Oleh karena itu Pertamina bisa terus eksis di Indonesia, meskipun kini ada beberapa pesaing. Pertamina juga tidak memperbolehkan korupsi dalam badannya. Yang paling penting adalah, Pertamina memfokuskan pelayanan kepada pelanggan. Dengan demikian harga yang ditawarkan pun bisa diterima masyarakat.
Nilai-nilai yang saya jabarkan di atas tadi yang membuat Pertamina mempunyai nilai plus yang unik di mata masyarakat Indonesia. Hal ini bukan hanya teori belaka. Saya sendiri selalu mendapat pelayanan yang memuaskan pada setiap SPBU yang saya kunjungi. SPBU yang saya kunjungi mayoritas sangat bersih. Ditambah lagi, biasanya ada kafe kecil untuk bersantai, ketika pengisian bahan bakar dalam kendaraan kita. Selain itu, tabung gas dari Pertamina pun tidak dikorupsi. Ada pun bila dikorupsi, itu pasti ulah distributornya. Selama keluarga saya memakai gas dari Pertamina, belum pernah ada keluhan, kecuali keluhan mengenai selang gas.
Bukan keluhan tentang gas Pertamina.
Memang baru itu saja produk Pertamina yang pernah saya gunakan. Saya yakin bahwa produk mereka yang lainnya juga tidak mengecewakan. Mengapa saya begitu yakin? Pertamina ada perusahaan besar, mempunyai citra yang baik, apabila produknya mendapat keluhan, pastinya akan dipertimbangkan dengan matang. Mereka mempunyai orientasi pelanggan. Kepuasan pelanggan adalah nomor satu.
Mungkin paragraf-paragraf di atas sangat menjilat, dan omong kosong. Semua orang tahu, bahwa semua itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pertamina juga saya yakin mempunyai kekurangan, tidak mungkin tidak. Banyak orang juga mempunyai kekurangan, artis besar mempunyai kekurangan, atlet besar juga, begitu juga dengan tokoh-tokoh besar. Apa yang membedakan mereka? Mereka yang besar itu mempunyai kalimat yang sama dengan judul post ini di kepala mereka. Kerja keras adalah energi. Memang hampir tidak mungkin disukai semua orang, tapi bukan berarti kita menerima apa adanya. Cintai yang lain maka mereka mencintai kembali. Pertamina telah mempraktekan itu. Kapan giliran Anda?
Jika kita melihat cinta sebagai permainan, maka kita akan dipermainkan oleh cinta
Nard4Reynard

“The Fourth Kind” menceritakan kembali interview antara Dr. Abigail Emily Tyler (Milla Jovovich, yang main di film Resident Evil) dengan Olatunde Osunsanmi (Sutradara film ini). Dr. Abigail yang asli ini bercerita tentang kejadian aneh itu, yang kini difilmkan. Dr. Abigail yang palsu (si Milla Jovovich) minta dihipnotis oleh Dr. Abel Campos buat dihipnotis. Si Abigail ini pengen tau siapa sih yang bunuh suaminya waktu itu. Soalnya udah dua tahun, tapi masih belom ketemu juga. Setelah masuk fase hipnotis, dia akhirnya inget lagi kejadian waktu suaminya dibunuh. Tapi entah kenapa dia gak bisa liat muka si pembunuh, gak tau kenapa. Akhirnya fase hipnotis dihentikan setelah teriak-teriakan dari si dokter Abby (Abigail).
Dr. Abby ini juga bekerja sebagai psikolog, dia menangani tiga pasien dengan keluhan yang sama. Mereka susah tidur, dan selalu melihat burung hantu di jendela kamar tidurnya. Saat berkunjung yang ke-dua kalinya lagi, pasien yang bernama Tommy pengen dihipnotis, dia pengen sembuh dari susah tidur ini. Buat dia gak ada jalan terbaik untuk menghilangkan ini selain menghadapi ini. Akhirnya dia dihipnotis, perlahan-lahan dia inget lagi, sampe akhirnya dia gak bisa kontrol diri dan pecahin lampu. Dia bilang ke Abby bahwa dia baek-baek aja, padahal dia masih terlihat histeris. Ya udah, si Abby memperbolehkan Tommy pulang.
Malamnya, si Tommy menyekap keluarganya dengan pistol. Dia gak mau bicara sama siapa pun kecuali sama si Abby. Sheriff August langsung telpon si Abby buat bicara langsung sama Tommy. Si Tommy bilang, itu bukan burung hantu, Abby harusnya tau itu. Tommy gak mau dengerin si Abby lagi, dan CROT! Istri, anak, dan Tommy sendiri ditembak mati oleh Tommy. Sheriff August curiga kalo si Abby ini kasih yang macem-macem ke pasien. Mereka adu bacot di kantor polisi. Si Abby diperbolehkan pulang ke rumah.

Keesokan harinya Scott, pasien Abby yang lain dateng ke rumah. Dia juga mau dihipnotis. Empat, tiga, dua, satu, dia tidur, dan mulai menceritakan kejadian kemaren malem. Hipnotis selesai, karena lagi-lagi, si pasien histeris, dan akhirnya MUNTAH. Scott cerita, waktu malem tidur, ada yang buka pintunya, dan dia yakin kalo burung hantu yang dia lihat itu bukan burung hantu. Semacem makhluk, bukan berasal dari sini. Scott, sama seperti Tommy, boleh pulang ke rumah, padahal dia masih histeris. Besoknya, asisten Abby mendengar suara aneh dari rekamannya Abby. Dia gak mau denger itu lagi karena terlalu HOROR. Trus, si Abby denger tuh rekaman lagi, dan ada bahasa aneh di rekaman itu. Abby yakin dia pernah diculik alien, soalnya ada jeritan aneh di rekaman itu, dan di rumah dia pun ada bukti-bukti yang mendukung. Dia akhirnya minta Dr. Odusami buat menerjemahkan bahasa yang konon katanya bahasa Sumaria. Setelah diterjemahkan, intinya tuh 1st Kind-sighting, 2nd Kind-evidence, 3rd Kind; contact with extra-terrestrial, and 4th Kind: abduction. Melihat, bukti, kontak, penculikan.
Eh, malemnya si Abby ditelpon lagi, tapi kali ini sama istrinya Scott. Abby langsung ke rumah Scott. Scott mendapat mimpi buruk dan dia dapet luka di tangannya, dia gak tau luka itu berasal dari mana. Scott minta dihipnotis, di sana ada istrinya, Dr. Campos, dan Dr. Odusami. Pada waktu dihipnotis, Scott tiba-tiba diem kaya orang mati, dan tiba-tiba lagi, dia TERIAK, kejang-kejang. Terus, dia sempet melayang gitu dari tempat tidur. Sheriff August curiga lagi donk, gila, masa tiap kali pasien Abby bermasalah semua. Kenapa si Scott bisa luka di leher sama punggungnya? Abby gak bisa jelasin, lah orang dia kejang-kejang sendiri. Akhirnya Sheriff August menugaskan rekannya untuk mengawasi Abby di rumahnya. Rekannya itu melihat benda aneh, dan video selalu mati saat yang aneh itu datang. Dia gak bisa jelasin ke August deh. Si August marah lagi, koq udah dijaga sama rekannya, putrinya bisa HILANG. Abby bilang, putrinya itu diculik sama mereka. Bullshit, August gak percaya.
Abby pikir, gak ada cara menyelesaikan masalah ini kecuali dia sendiri ikut diculik dan datang melihat si Ashley (putrinya yang buta itu). Yah, ini berhasil, dia diculik, tapi DIKEMBALIKAN lagi sama penculik itu. Dia gak inget di mana dia diculik, ada yang dikembalikan ada yang disimpan. Padahal penculikan itu juga udah membuat luka di tubuh Abby. Ya sudah, misteri tidak dapat dipecahkan, Ashley masih hilang bersama banyak orang yang hilang lainnya di Nome, Alaska (tempat si Abby dan pasien-pasiennya tinggal).
Status terakhir, Dr. Abigail Emily Tyler, masih hidup dan dibersihkan dari semua tuduhan atas hilangnya Ashley. Dia masih dibawah pengawasan dokter. Ronnie (22 tahun, anak laki-laki Abby), masih gak mau tinggal sama Ibunya, dia masih menyalahkan Ibunya atas kehilangan Ashley. Dr. Campos masih praktek di Alaska. Dia yang memberi rekaman asli film ini. Sheriff August pensiun dua tahun setelah itu, dia gak mau berpartisipasi dalam film ini. Ashley sampai sekarang belum ditemukan. Sampai kapan pun, kita gak bakal percaya sampai kita mengalaminya.
We must choose what to believe
Nard4Reynard
Hari ini gw nonton film “The Fourth Kind” di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Apa spesialnya? GRATIS!
Gak usah muna deh, semua orang suka sama sesuatu yang gratis. Bener kan? Kalo bener anggukan kepala Anda tiga kali. Nah, post kali ini gw gak bahas film secara menyeluruh. Besok gw akan post review film horor ini. Kenapa besok? Karena sekarang sudah malem, nanti kalo gw inget-inget lagi bisa gak berani ke wc waktu malem.
Film ini cukup menyeramkan, jujur. Siapa sih yang gak takut? Bohong banget yah ada manusia di dunia ini yang gak takut begituan. Kalo dia bilang gak takut, pasti itu karena gengsi sesaat. Bener kan? Kalo bener anggukan kepala Anda lima kali. Oke, kurang satu tuh, sekali lagi, oke sip.
Sebelum nyenggol-nyenggol film “The Fourth Kind”, gw akan membeberkan satu rahasia UNIK di bioskop Indonesia. Gw juga baru nyadar setelah baca ini di forum. Ternyata ada juga yah orang kurang kerjaan di dunia ini yang perhatiin begituan. Nanti, kalo Anda akan nonton di Bioskop, coba perhatikan kursi baris I. Kalo Anda sudah perhatikan, berarti anda BOHONG. Karena semua bioskop di Indonesia tidak ada kursi di barisan I. KENAPA?! Gak tau, gw juga penasaran juga sih. Kalo ada yang kurang kerjaan dan memperhatikan hal ini, dan ternyata BENAR, anggukan kepala Anda sepuluh kali (wkwkwkwk pusing-pusing dah lu). Gw tadi sempet kurang kerjaan juga, jadi gw preksain deh tuh barisan I, sekalian turun, gw kan di baris G. Eh, ternyata bener loh gak ada, langsung lompat gitu. Aneh.

Nah, sekarang kita senggol-senggol sedikit film ini. Jangan banyak-banyak, gw juga parno.
Katanya, sekali lagi KATANYA, film ini dibuat berdasarkan kisah NYATA. Gw sendiri percaya-percaya aja, tapi gak kaget juga kalo ternyata itu omong kosong. Kalo dianalogikan, kaya penyakit cacar. Katanya kan kalo kita udah kena cacar, kita gak bakal kena lagi tuh penyakit. Aneh sih buat gw, gak masuk akal. Tapi setelah gw kena cacar, it works, bener sih, sampe sekarang gw gak kena cacar lagi. Semenjak itu, mitos kena cacar trus gak bakal kena lagi jadi masuk akal di otak gw. Intinya logis itu adalah masuk akal. Jadi logis itu akan logis bila akal kita diberi inputan. Mungkin ini terlihat out of topic dari yang kita bicarakan, tapi baca deh, soalnya lu bakal ngerti gimana gw memandang film ini. Menurut gw film ini gak bullshit. Menurut gw film ini masuk akal. Walaupun para manusia berbatang yang banyak berpikir pakai logika bilang film ini bullshit.
Tokoh utama film ini adalah seorang dokter, psikolog. Pokoknya semua aktor dan artis di film ini memerankan tokoh nyata di dunia nyata. Based on true story. Beberapa orang yang masih hidup dan menjadi tokoh nyata dalam cerita ini menolak untuk berpartisipasi. Ah, paling gara-gara duitnya kurang.
Tapi serius deh, gw yakin ini juga nyata. Emang ada sesuatu yang harus kita alami sendiri agar kita bisa menyatakan itu nyata. Percaya atau tidak itu keputusan kita, tapi kalo kita udah mengalaminya, hmm mau bilang apa? Post gw daritadi banyak anggukannya kan? Ya, karena dalam film ini banyak sesi hipnotisnya. Udah deh segitu dulu, besok ya.
Anda mau tau jawaban dari misteri bangku I di bioskop? KATANYA sih karena rancu sama angka satu, KATANYA loh
Nard4Reynard
Tradisi remes-remesan memang bukan tradisi yang dianggap perlu lagi. Walaupun setiap pergi ke gereja gw wajib meremas-remas itunya orang. Banyak wanita yang merasah risih waktu diremas. Padahal cuma diremas! Ya ilah.. Mungkin mereka sudah bisa membaca bahasa tubuh si peremas walaupun si peremas baru memikirkannya dalam pikiran. By the gay, by the way maksud gw, meremas-remas itu menurut gw sebuah hal yang sopan, normal, dan biasa. Kadang memang dilebihkan dengan memakai sedikit kecupan, sekali-kali wanita juga mendesah-desah karena remasannya terlalu kencang, “Ahh-ahh..”.
Bagi orang-orang Amerika dan Eropa, meremas dengan kencang menandakan bahwa orang itu sangat antusias. Waw. Kayanya remasan saya cukup kencang nih.
Kalo di Jepang, mereka meremas sambil menunduk, aneh memang, begitulah tradisi mereka. Akan tetapi, sebenernya, remasan itu tidak terlalu penting, tergantung gimana kita memaknainya. Behh. Gw dulu sering iseng sama temen, ngadu remes-remesan, sampe itu kita merah-merah semua. Haha. Biasalah, pria kan selalu mencari kekuasaan.
Kalo lu pikir remes-remesan itu suatu perbuatan yang tidak sopan, maka lu SALAH besar. Ini bukan soal true or false, tapi right or wrong. Begitu juga hidup, bukan soal true or false, tapi right or wrong. Ada kondisi dimana itu dinyatakan true tapi wrong, dan ada juga kondisi false tapi right. Kita manusia, bukan binatang. Prinsip true or false cuma buat binatang. Kadang kita pakai, karena kita memang mirip sekali dengan binatang. Satu yang membedakan kita dari binatang adalah hati. Maka dari itu, remas-remasan bisa saja false, tapi right.
Gw oot (out of topic) bentar. Besok, tanggal 29 Desember 2009, pada pukul 13.00 sampai 20.00 WIB (Waktu Indonesia Barat, bukan waktu I boker), blog ini akan dimaintenance oleh yang empunya server, Binus. Jadi, selama itu kalian akan tidak bisa membuka blog saya selama jam itu. Oke, oot ended. Jadi buat pembaca yang tidak bisa mengakses blog ini gak usah foya-foya dulu, blog gw blom tamat koq, cuma lagi dibenerin. Bagi yang gak sabar mau mengakses blog ini besok-besok, pasti lu BOHONG! Bagi yang gak peduli, lu pikir gw peduli sama lu.
Kembali ke remes-remesan. Sebenarnya kita dari tadi membahas remes-remesan yang mana sih? Asal lu tau ya, remes-remesan itu merupakan step pertama dalam berkenalan dengan seseorang, itu tanda bahwa dia juga menerima lu untuk berkenalan. Ya, bukan sesuatu yang seratus persen sih. Yah, pokonya sih intinya sih gampang, kau pegang anuku, ku pegang anumu. Ku remas punyamu, kau remas punyaku. Lalu goyangkan naik turun berkali-kali disertai senyuman. Itu adalah cara BERSALAMAN yang baik.

Shake before use, handshake before be acquainted
Nard4Reynard

