Tanpa Judul

Suatu hari, dalam sebuah latihan wisuda SMA, Saya dan teman seangkatan mengobrolkan teman kita yang lain (X). Teman ngobrol saya bertanya, kenapa dia berubah seperti itu. Padahal waktu masih duduk di SMP, dia tidak bersifat seperti itu. Lalu, Saya hanya menjawab bahwa sebenarnya orang yang seperti itu yang harus kita temani. Justru orang-orang seperti itu yang BUTUH seseorang sebagai teman. Teman Saya hanya menjawab, “Ya, lu aja temenin dia, emang lu mau temenan sama orang kaya gitu?”. Teman kita itu memang berubah dalam tiga tahun di SMA. Teman-temannya entah kenapa mulai menjauhi si X ini. Di saat kita bisa memperhatikan orang lain, mengapa kita hanya memperhatikan orang yang statusnya lebih tinggi. Mengapa kita tidak memberi perhatian kepada mereka yang memang memerlukannya?

Kalau kita punya jarum putih, kenapa kita tidak berbagi dengan Djarum Black, agar hidup kita seimbang? Mungkin saja suatu hari, orang-orang yang kita jauhi seperti contoh di atas, menjadi penghuni sel-sel tahanan dan disiarkan televisi. Lalu tanpa kita sadari, sebenarnya kita baru saja memperhatikannya lewat televisi. Orang-orang pergi ke luar negeri, mengunjungi tempat-tempat yang terkenal, untuk menyegarkan pikirannya sesegar Djarum Black Menthol. Memang itu tidak salah, dan Saya juga tidak berani menyalahkannya. Coba kita lihat, ada berapa banyakkah orang yang pergi ke luar negeri untuk membantu orang miskin?

Dari tadi, kita mengupas hal ini tanpa solusi. Sebenarnya apa SOLUSI-nya? Mengutip perkataan Marcell Siahaan pada sebuah acara bincang-bincang sore hari, dia berkata bahwa semua elemen itu mempengaruhi kita. Semua elemen. Serasa aneh, jika kita hanya berterima kasih kepada orang-orang yang kita rasakan membantu kita menjadi sukses, padahal sebenarnya SEMUA berperan dalam kesuksesan kita. Sederhananya, kita dibentuk oleh lingkungan kita. Lingkungan global. Jadi, orang jahat, orang sakit, dan segala macam lainnya, itu semua dibentuk oleh lingkungan global. Termasuk kita. Kita juga berperan membuat mereka menjadi jahat. Kita berperan membuat seseorang sukses.

Hidup ini tidak susah, namun hidup ini juga tidak mudah. Kita akan bahagia bila kita mempunyai keseimbangan dalam hidup. Kita tidak selalu bahagia karena harta yang melimpah, status tinggi, teman yang banyak, atau segala hal makro lainnya. Masing-masing mempunyai tingkat keseimbangan yang berbeda. Mayoritas masyarakat bilang, paling enak menjadi seorang bos. Bagaimana bisa kita hanya mengandaikan bahwa kita menjadi bos, lalu kita merasakan kenikmatan sesungguhnya. Ya, kita memang bisa mengira-ngira, tapi kenyataan ya kenyataan. Mari kita hidup dalam kenyataan, bukan dalam persepsi orang lain, bukan dalam tren yang diciptakan dunia. Karena hidup yang kita jalani itu memang kenyataan, bukan persepsi orang lain atau pun tren yang dibuat oleh dunia. Kenyataannya apa? Kenyataannya adalah semua mempengaruhi kita. Sekali lagi, semuanya.

Hidup dalam kenyataan

Nard4Reynard

  • Share/Bookmark
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Congratulation! You are the ... Visitor!

    Website Counter


  • Update Status

    Vote belom selese... KEEP VOTING

    Follow The Comical Life on Twitter

  • Kontak Reynard

    Bodyspace

    Delicious

    FriendFeed

    Goodreads

    Kaskus

    Last.fm

    MySpace

    Twitter

    Youtube

    Lainnya, E-MAIL ke reynard_cruise [at] yahoo.co.id

  • Not Indonesian? Select Your Language Here

  • Join Please

  • free counters

  • Categories